sejarah lanud gorda
Semula pangkalan udara ini disebut dengan Pangkalan Udara Lamaran karena landasannya dibuat persis di kuburan Dusun Lamaran, Kecamatan Carenang. Nama Gorda diambil dari nama Desa Gorda yang merupakan komplek pimpinan dan para periwra tentara Jepang. Kata “Gorda” sendiri adalah nama pohon seperti beringin, berdaun lebar, tebal dan bulat, buahnya disebut kelelet. Desa Gorda terletak di tepi jalan Serang-Jakarta, jaraknya dengan landasan sekitar 4 Km.
Pangkalan ini memiliki luas keseluruhan 712 hektar, menempati areal yang termasuk wilayah Kelurahan Warakas, Gembor, dan Cakung, Kecamatan Carenang, sedangkan areal lainnya masuk wilayah Kelurahan Julang, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang-Provinsi Banten. Sebagian arealnya saat ini telah dimanfaatkan masyarakat untuk persawahan. Bagian lainnya telah berubah bentuk menjadi sabana, hutan perdu, rawa-rawa, perkampungan serta pekuburan. Di masa kolonial Belanda, tanah ini dikuasai oleh perusahaan perkebunan karet milik Onderneming di bawah pimpinan Tuan Erb.
Pangkalan Udara Gorda dibangun pada masa invasi Jepang tahun 1942,Terdiri dari dua landasan, masing-masing panjangnya 2,5 kilometer, dengan bentuk saling bersilang membujur arah utara-selatan dan barattimur 12 ? 19, 06 ? 27. Lebar landasan 100 meter dan ruas kanan kirinya juga memiliki lebar 100 meter. Strutur landasan tersebut sudah diperkeras dengan batu, dilapisi dengan lempengan tanah berumput sebagai penyamaran. Pangkalan udara ini oleh tentara Jepang memang diperuntukkan sebagai pangkalan udara rahasia. Semula landasan ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti : perkantoran, hanggar, rumah sakit, pos-pos penjagaan, gudang bahan bakar, gudang peluru dan senjata, serta kompleks perumahan bagi tentara Jepang.
Sewaktu Jepang dikalahkan tentara Sekutu, para penerbang AU bergabung dengan para pejuang Banten memanfaatkan moment kejatuhan Jepang tersebut untuk segera merebut Lanud Gorda dari tangan Jepang. Tokoh pejuang Banten yang ikut andil dalam peristiwa ini antara lain : Mashaji, Achmad Khotib, Kyai Sema’un, Kyai Abdullah, Iskandar, dan Kapten Syafei. Dalam peristiwa perebutan Pangkalan Udara ini banyak fasilitas bangunan penunjang yang dihancurkan.
Dalam catatan sejarah TNI AU, pada tanggal 27 Agustus 1946 Pangkalan Udara Gorda pernah didarati oleh satu tim penerbang AURI, dalam rangka operasi penerbangan cross country dengan rute penerbangan dari Pangkalan Udara Maguwo (Yogyakarta) menuju Pangkalan Udara Branti (Tanjungkarang). Dalam perjalanannya pesawat – pesawat tersebut melakukan transit di Pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya) dan Pangkalan Udara Gorda (Serang). Pesawat - pesawat yang diterbangkan tersebut adalah hasil rampasan perang pesawat Jepang.
Tim terbang cross country tersebut terdiri dari enam pesawat, yaitu Cureng 1 & 2 , Cukiu 1 & 2, dan Nishikoreng 1 & 2, yang diterbangkan oleh pilot Adisutjipto, Iswahyudi, Wiryosaputro, Tarsono Rudjito, Sunaryo, dan Prayitno Santoso. Awak penumpangnya antara lain Kepala Staff Angkatan Udara Komodor Udara Suryadi Suryadarma, dan M. Yacoeb yang bertugas sebagai teknisi. Tetapi sehari setelah penerbangan, pada tanggal 28 Agustus 1946 pesawat Cureng 1 mengalami kerusakan mesin dan harus transit di Lanud Gorda, sehingga hanya ada lima pesawat terbang tersisa yang masih dapat melanjutkan penerbangannya ke Branti.
Selanjutnya pada tanggal 12 Desember 1946 tim penerbang tersebut pulang kembali menuju basecamp mereka di Lanud Maguwo. Dalam perjalanan kembali, pesawat Cukiu 1 pun mengalami kerusakan mesin dan transit di Lanud Gorda bersama pesawat Cureng 1 yang telah lebih dahulu mengalami kerusakan mesin sebelumnya, sehingga hanya ada tiga pesawat tersisa yang dapat meneruskan penerbangannya kembali ke Maguwo. Pada tahun 1946 pangkalan ini juga dikunjungi oleh beberapa orang anggota AURI lainnya, yaitu : Sumadi, A. Rasyidi, Salim, Yusron, Djarot, Dimun, Sukaji, dan Sumantri.
Selanjutnya pada tahun 1947-1948 Belanda menduduki Pangkalan Gorda sampai tahun 1949, namun pihak Belanda kurang memelihara pangkalan ini dan sama sekali tidak memperbaiki bangunan penunjang yang ada. Seiring dengan perkembangan organisasi, Pangkalan Udara Gorda yang semula merupakan insub Pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusuma, kemudian berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/22/XI/1998 tanggal 25 November 1998 tentang penyempurnaan status, kriteria, klasifikasi Pangkalan TNI AU serta penentuan Detasemen dan Pos TNI AU, maka Pangkalan Udara Gorda statusnya berubah menjadi Detasemen Gorda berada dalam jajaran Koopsau I.
di tengah lanud ini lah adanya piramida itu..............
seperti foto diatas itu bentuk nya
-g3m012-
